Membaca buku ini bagaikan melihat indahnya cendrawasih dalam prisma tiga sisi yang warna warni. Ilmu berkomunikasi sudah banyak dibahas dan ditulis orang. Namun buku ini menjadi menarik karena disajikan oleh tiga orang dengan perspektif yang berbeda.
Alexander Sriewijono, psikolog dengan background akademik yang cukup kuat, mengawali buku ini dengan meng-quote kata-kata Ben Jonson: “To speak and to speak well are to things. A fool may talk, but a wise man speaks”.
Apakah anda harus terlahir menjadi orang bijak agar dapat berkomunikasi dengan baik ? Tentu tidak. Semua itu bisa dipelajari dan dilatih. Langkah pertama adalah petakan kekuatan dan kekhasan diri anda. Menurut Alex, ada tiga belas kompetensi yang perlu dimiliki dan diperkuat, yaitu 13C mulai dari Confidence dan sebelas C lainnya sampai Conclusion atau kemampuan untuk menutup pembicaraan secara efisien, efektif dan impresif.
Hal penting lainnya adalah beautiful mind untuk mendorong komunikasi yang positif. Coba renungkan kutipan dari Frank Garafola ini: “The difference between a smartman and a wise man is that a smart man knows what to say, a wise man knows whether or not to say it”. Seorang presenter yang baik pastilah mahir memainkan kata-kata untuk menyampaikan message-nya namun dia juga perlu menjaga apa yang tidak perlu diucapkan.
Selain itu, ada hal yang sangat penting dalam public speaking yaitu kekuatan emosi. Dengan memberi tekanan emosi pada kata-kata anda, apa yang anda sampaikan akan lebih terasa dan terlihat sehingga efeknya bisa luar biasa.
Pada bagian kedua, Erwin Parengkuan, seorang praktisi public speaking yang mengawali karirnya dari dunia broadcasting, membagi ilmu dan pengalamannya. Hal yang bagi saya pribadi sangat menarik adalah Total Vocal, bagaimana teknik melatih vokal yang baik, mulai dari intonasi, artikulasi, pause, pace sampai cara melatih power dengan jurus “Hu Hah” dan “Hih-hah-huh”.
Kunci lainnya adalah Powerful Words untuk dapat menyihir pendengar anda menangkap apa yang anda sampaikan. Hal ini ternyata perlu ditunjang oleh empat aspek yaitu: tahu persis apa yang disampaikan dan kepada siapa, penyampaiannya menyentuh aspek personal, disampaikan dengan penuh ketulusan, dan logis atau masuk akal.
Bagian ketiga ditulis oleh Becky Tumewu, juga seorang praktisi di bidang public speaking ini, membahas tentang total image, dan bagaimana menciptakan brand image yang kuat. Komunikasi yang utuh tidak hanya berisi kata-kata hebat, tetapi juga ditunjang oleh bahasa tubuh, mimik wajah dan sorot mata. Di sini Becky membagi banyak tips praktis yang bisa anda pelajari dan praktekkan.
Apakah brand image hanya untuk orang terkenal ? Tidak, siapapun anda, sebaiknya menciptakan brand image anda. Yang penting, brand image harus sesuai dengan kenyataan, apa yang anda tampilkan saat “manggung” haruslah sesuai dengan panggung kehidupan anda sendiri.
Kejujuran juga coba disampaikan buku setebal lebih dari tiga ratus halaman ini. Pada DVD yang menyertai buku ini, selain menyampaikan opini tiga penulis buku ini plus sembilan orang tokoh panggung lainnya secara formal, diberikan juga cuplikan “behind the stage”-nya yang mencerminkan personality mereka di luar panggung.
Well done !
The Art of the Leader. Saya mendapat copy buku ini secara tidak sengaja. Bulan Maret 1991, saat itu saya sedang menemui kawan di kantor pusat Perumtel (sekarang PT TELKOM) yang ada di Bandung. Kebetulan saat itu sedang ada event penting. Cacuk Sudarjanto, Dirut Perumtel saat itu, sedang mengadakan rapat pimpinan dengan para kepala wilayah dan pejabat tinggi lainnya. Beliau, suhu manajemen sekaligus pemimpin yang luar biasa, sedang membagikan ilmunya. Buku yang beliau baca diperintahkannya untuk dicopy dan dibagikan kepada para pejabat tinggi tadi. Nah, kebetulan walau hanya staf biasa, kawan saya bisa mendapat dua copy dan membaginya satu untuk saya.
The Miracle of Enzyme. Saat pertama membaca judul buku ini mungkin orang bisa bersikap skeptis, apalagi dengan tambahan sub-judul ‘Self-healing Program’. Namun bila kita lihat lebih jauh, dengan pengalaman penulisnya yang sudah melihat isi lambung dan usus lebih dari 300 ribu pasiennya, maka kita bisa pertimbangkan kebenarannya. Ya, sang penulis, Hiromi Shinya MD, adalah dokter pelopor pengobatan dengan kolonoskop, dimana alat ini dimasukkan ke lambung atau usus, sehingga polip atau tumor bisa diambil tanpa harus membedah perut pasien. Buku ini memberikan resep hidup sehat berdasarkan pengamatan perilaku, khususnya pola makan, para pasien tersebut.