Tentang Blog ini

 

Quo Vadis: the Choice (and the Consequence) is Yours

 

Bayangkan, anda sedang terburu-buru, sahabat karib anda mengundang untuk pesta barbeque. Sepuluh menit lagi acara dimulai dan sebagian kawan sudah menunggu untuk mulai menyantap aneka daging panggang dan aneka minuman yang menyegarkan.

 

Anda memacu Ferrari sport baru anda, ya … tinggal 7 km lagi menyusuri jalan pegunungan berkelok sebelum sampai di tempat pesta. Kalau terlambat, bisa-bisa anda cuma kebagian salad saja. Maklum, para sahabat tadi memang penikmat santap sejati.

 

Ya, pacu terus … tinggal 5 km lagi …  Namun tiba-tiba anda dihadapkan dengan sekelompok orang yang rupanya meminta anda untuk berhenti. Aaah …. ternyata ada tiga orang yang anda kenal sedang menanti pertolongan.

 

Yang pertama, ibu guru anda semasa SD. Rupanya sakit asma bu guru kambuh dan dengan tersengal-sengal dia meminta anda untuk segera membawanya ke rumah sakit.

Yang kedua, orang yang anda hormati karena kebaikannya yaitu pak mantan walikota. Beliau yang sedang berjalan santai menikmati indahnya pagi tiba-tiba ditelpon harus segera pulang karena cucunya hampir lahir.

Yang ketiga, seorang gadis cantik yang anda sukai dan sedang anda dekati, ternyata sedang mencari kendaraan untuk membawanya ke tempat pesta yang sama yang anda tuju.

 

Anda tidak mungkin membawa ketiganya sekaligus karena mobil sport anda hanya punya dua tempat duduk.

Jadi siapa yang harus anda ajak ? Mantan bu guru yang perlu segera ke rumah sakit, mantan walikota yang anda hormati, ataukah gadis yang anda cintai ?

 

Bila anda segera mengajak bu guru ke rumah sakit, beliau bisa segera mendapat pengobatan. Namun bagaimana dengan pak walkot … tentunya beliau kecewa tidak bisa segera menemui keluarganya. Dan anda juga akan mengecewakan gadis yang anda sukai.

 

Atau anda bisa mengajak pak walkot yang anda hormati agar bisa segera melihat cucunya. Namun bagaimana dengan bu guru … Bisa jadi beliau semakin sesak napas dan semakin parah. Dan, bagaimana dengan gadis yang anda cintai ?

Bila anda ambil salah satu dari dua pilihan di atas, anda juga bakal terlambat ke pesta dan kemungkinan kehabisan aneka barbeque yang nikmat.

 

Atau mungkin anda ajak saja sang gadis cantik, sehingga anda bisa segera sampai dan menikmati pesta. Tetapi apakah anda tega membiarkan bu guru menderita ? Dan juga mengabaikan pak walkot yang baik dan terhormat ?

 

Pilihan manakah yang akan anda ambil ?

 

Bila anda cukup bijak, anda akan mempersilahkan pak walkot untuk membawa Ferrari anda agar beliau bisa segera melihat cucunya. Namun tentu ada syaratnya … pak walkot juga anda minta agar sekalian membawa bu guru ke rumah sakit.

Dua orang akan terbantu.

 

Lalu bagaimana dengan si gadis cantik pujan hati anda ? Anda sendiri bisa menemani sang gadis berjalan kaki ke tempat pesta. Lumayan, 5 km berjalan akan menyehatkan dan anda berdua punya waktu kira-kira satu jam untuk berbincang santai.

Bagaimana dengan aneka barbeque yang mungkin sudah tandas dilahap para sahabat anda ? Jangan pikirkan hal itu … menyantap salad akan lebih menyehatkan dibanding daging :-)

 

Setiap langkah kehidupan bagaikan menemui persimpangan jalan dimana kita harus memilih.

 

Begitu banyak pilihan … makanan jasmani yang anda santap akan mempengaruhi fisik anda. Begitu pula dengan makanan rohani, apa yang masuk ke pikiran dan batin akan mempengaruhi spiritual anda.

 

Pandai-pandailah memilah dan memilih …

 

Semoga ceritera dan ulasan buku berikut ini bisa memberi inspirasi bagi anda. Selamat menikmati !

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.